Cerita Inspirasi 2 (MPKMB 47)

Nama   : Sari Wasmana

NRP    : G14100104

Laskar : 7

Tidak Putus Asa Membawa KEAJAIBAN yang Tak Terkira

Cerita inspirasiku ini, mengenai sebuah pengalaman yang baru saja aku alami. Pengalaman ini aku alami saat aku sedang bingung harus kemana saya melanjutkan sekolah setelah lulus SMA. Pada awalnya, aku memang sudah berniat untuk masuk IPB, ini atas dorongan keluargaku terutama ayah. Selain itu, kedua kakakku pun lulusan IPB dan sekarang telah menetap di Bogor. Jadi, ayahku menginginkan aku untuk kuliah di Bogor karena ada yang mengawasi aku.

Akan tetapi, aku ingin mencoba ke universitas yang lain senut saja UPI, UNPAD dan UGM. Tentu saja, hal itu ditentang aleh ayahku. Sebenarnya, aku ingin mencoba ke banyak universitas pun karena aku tidak terlalu yakin apabila hanya memegang 1 universitas saja. Pada akhirnya, saya pun tetap mengikuti jalur USMI IPB, keluarga, guru dan teman-teman aku pun yakin bawa aku dapat diterima karena nilai aku yang cukup menunjang.

Hari pengumuman pun dating, sayangnya nama aku pun tak tercantum. Jujur saja, waktu itu aku sangat sedih sekali karena itu kegagalan pertamaku yang sangat fatal. Tentu saja, keluarga aku pun ikut sedih, tetapi mereka masih saja memaksaku untuk mencoba lagi tetapi melalui jalur SNMPTN. Aku pun kaget mendengarnya, karena yang aku ketahui jakur SNMPTN itu adalah jalur terakhir masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan kita tentu saja akan bersaing dengan beribu-rinu orang lainnya.

Karena keluargaku sangat mendukung, semangatku pun terpace kembali. Aku pun mengikuti bimbinggan belajar baik untuk persiapan UAN maupun SNMPTN, jadi pada saat teman-temanku libur setelah pengumuman UAN aku sedang berjuang keras untuk SNMPTN. Selain itu, diam-diam aku mengikuti test SMUP UNPAD dan saya dinyataka lulus. Tetapi sayangnya, biaya kuliahnya sangatlah mahal, aku pu membuang kesempatan itu. Lalu aku mengikuti PMDK UPI secara diam-diam tentunya. Dan tidak diterima. Akhirnya aku berpikir kembali, “Apakah memang Ridho Allah adalah Ridho orang tua?”,

Setelah itu aku pun benar-benar bertekad untuk lulus SNMPTN!!! Pada saat pendaftaran, ternyata kita diharuskan untuk memilih 2 universitas yang kita tuju. Tentu saja pilihan pertamaku IPB-Statistika, yang membuat aku bingung adalah pilihan kedua. Keluargaku meninginkan aku untuk memilih IPB saja, tetapi guru BIMBELku menentangnya, mereka bilang itu membuat kesempatan kita semakin kecil. Gunjingan lain pun datang kepadaku, katanya jurusan yang aku ambil terlalu tinggi levelnya takutnya aku tidak akan mampu. Tetapi aku tidak mempedulikan semua itu, aku tetap pada pilihan aku yaitu IPB-Statistika dan yang kedua IPB-Agrbisnis.

Tentu saja aku mengambil pilihan tersebut, karena telah siap menanggung resikonya. Hari ujian pun tiba, jujur saja hari pertama membuat diriku sangat ‘down’ karena MADAS dan Bahasa Inggrisnya. Hari ke-2 ujian, aku mendapa sedikit kemudahan. Hasil SNMPTN pun baru diumumkan 1 bulan kemudian secara online. Saat 1 bulan itu pun hati aku sangat resah dan galau, idak aku saja orang tua aku pun. Karena mereka, sangat berharap besar aku diterima. Aku pun tak henti-hentinya berdoa kapan pun dan dimana pun. Semakin hari aku pun semakin resah saja, aku pun sering murung bahkan menangis sendirian. 1 hari sebelum pengumuman pun, diriku semakin tak karuan, tiba-tiba aku mendapat kabar bahwa pengumuman SNMPTN dimajukan hari ini jam 18.00 WIB.

Aku pun segera menyalakan laptop lalu memasang modem, ditemani orang tua, aku pun segera membuka website lalu memasukan no. pesertaku. Sanat lama memang, maklum saja Sukabumi. Aku pun mengulangi lagi, tiba-tiba saja muncul tampilan yang menyatakan bahwa aku diterima di IPB-Statistika. Aku dan orang tuaku pun menagis sejadi-jadinya. Aku pun bisa menyimpulkan, janganlah kita cepat putus asa walaupun banyak tentangan atas pilihan yang kita ambil. Apabila kita telah yakin atas pilhan kita sendiri, yakinlah juga bahwa kita bisa.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Cerita Inspirasi 1 (MPKMB47)

Nama   : Sari Wasmana

NRP    : G14100104

Laskar : 7

Ayahku, Inspirasiku

Aku memiliki seorang ayah yang sangat hebat dan bagaikan pahlawan dimataku. Ayahku memiliki cerita masa kecil yang miris atau istilahnya sangat menderita untuk seorang anak sekecil ayahku pada waktu itu. Mungkin, pertama-pertama cerita inspirasiku ini diawali dengan cerita kehidupan ayahku yang mwnginspirasiku.

Ayahku adalah anak pertama dari 13 bersaudara dan dari 3 ibu. Waw….. Sangat banyak bukan? Ayahku memiliki 3 ibu yang berarti 1 ibu kandung dan 2 ibu tiri. Orang tua kandung ayahku bercerai saat ia masih berumur 3 tahun. Kakekku menikah lagi, sedangkan ayahku bukannya diasuh oleh kakekku atau nenekku, malah ayahku diasuh adik dari nenekku. Dari situlah ayahku sudah mulai merasa diasingkan. Ayahku selalu bertanya-tanya, “Mengapa aku dibiarkan sendirian?”, “Mengapa aku tidak dirawat oleh salah satu orang tuaku?”, “Apa salahku?”. Itulah pertanyaan-pertanyaan ayahku yang tak pernah terjawab hingga hari ini.

Kehidupan ayahku, tidak sesuai dengan kebutuhan yang ia perlukan. Misalnya, untuk makan saja ayahlu harus membantu berjualan dahulu atau bila ada, lauk pauknya harus berbagi dengan saudara lainnya yang cukup banyak. Dan bisa saja dalam sehari hanya makan 1 kali. Untungnya, untuk biaya sekolah dasar (SD) oleh kakekku dibiayai. Tetapi perjuangan ayahku bukan hanya itu, jarak antara sekolahnya dan rumah ayahku cukup jauh. Maklum saja, rumah ayahku dikampung sedangkan sekolahnya didaerah perkotaan. Dan ayahku, hanya beralaskan sandal jepit untuk menempuh perjalanan yang begitu jauh.

Hingga SLTP pun, ayahku harus seperti itu. Tetapi, prestasi ayahku sangat baik loh!!!! Tidak pernah ayahku mendapat ranking selain 3 besar. Hebat bukan?? Sayangnya, ayahku tidak bisa melanjutkan ke SLTA seperti pada umumnya. Karena biaya pun tidak ada. Tetapi, ayahku tidak putus asa, ayahku pun ikut bersama temannya ke Bandung. Teman ayahku pun mengajaknya untuk tinggal sementara dirumahnya. Tiba-tiba teman ayahku menawarkannya untuk mendaftar di SAA (Istilah jaman dahulu untuk SMK) dibidang apoteker. Mendengar hal tersebut, ayahku pun sangat bersemangat, tetapi selain itu ayahku pun memikirkan, “Darimana aku mendapatkan biaya untuk mendaftar?”

Ayahku pun mencari tahu, mungkin saja ada beasiswa. Tetapi, pada waktu itu beasiswa tidak terlalu gencar. Tidak putus asa ayahku pun mencari pekerjaan, Sayangnya, hal itu pun tidak dapat terlaksana karena hanya dengan ijazah SLTP silit untuk mendapatkan pekerjaan yang menhasilkan banyak uang. Akhirnya, ayah bekerja serabutan seperti menjadi kuli di pasar, menjual barang-barang bekas ke tukang loak dan menjadi kenek. Di waktu senggang, ayahku belajar bersama temannya itu. Teman ayahku pun tergerak hatinya untuk membantu ayahku, tetapi dengan cara mencari tahu apakan ada keluarga ayahku yang sekiranya tinggal di Bandung dan ingin membantu ayahku. Karena ayahku pernah berkata kepada temannya itu, bahwa ia memiliki keluarga juga di Bandung yang berasal dari keluarga kakek tetapi ayahku lupa dan tidak tahu dimana mereka tinggal.

Hari test pun tiba, ayahku membeli formulir pun dari uang hasil ia bekerja. Sebulan kemdian pengumuman hasil test, syukurlah ayahku lulus. Tapi, pada saat itu juga ayahku bingung bagaimana ia membayar uang registrasinya. Selama sebulan ia bekerja pun tetap saja tak cukup, dan lagi batas pembayaran untuk registrasi hanya 5 hari. Lalu, ayahku pun sempat berpikir untuk meminjam uang kepada temannya itu, walaupun ia sangat terpaksa melakukan itu.

Alangkah terkejutnya ayahku, saat itu. Saat ia ingin mengatakan niatnya itu kepada temannya. Ternyata temannya memberi kabar bahwa ada keluarga dari ayahnya yang ingin membiayai sekolah ayahku dan keluarganya itu berada di Bandung. Kabarnya, keluarga ayahku itu memang mendapat kabar bahwa ayah berada di Bandung untuk sekolah dan mereka belum bertemu ayah sekali pun. Saat mendapat kabar, memang ayah sedang di Bandung dan sedang mencari biaya untuk meneruskan sekolah, mereka pun dengan senang hati membiayai ayah untuk melanjutkan sekolah.

Ayahku sangat berterima kasih kepada temanya itu dan tentu saja kepada keluarganya juga yang ingin membiayai pendidikannya.

Yang aku dengar dari cerita ibuku. Ayahku sangat berprestasi disekolahnya, selalu menyandang ranking 3 besar. Setelah keluar dari SAA, ayahku langsung mendapat pekerjaan sebagai asisten apoteker. Ayahku pun, mengikuti test PNS. Alhamdulillah, ayahku diterima. Sekarang, ayahku sudah pension. Dan ayahku beerhasil membiayai 2 kakakku dan aku hingga kuliah. Ayahku memiliki prinsip, bahwa jenjang pendidikan anak-anaknya harus lebih baik dan lebih tinggi daripada orang tuanya. Hinga saat ini pun, hidup kami sekeluarga pun sangat tercukupi.

Hebat bukan ayahku??!! Ayahku adalah inspirasi bagiku. Dari cerita masa kecilnya saja, aku sudah tahu bahwa ayahku seseorang yang pantang menyerah dan selalu mengutamakan pendidikan awal dari kesuksesan. Ayahku juga sangat mandiri. Walaupun begitu, ayahku sempat berpikir bahwa ia hanya akan menjadi, “Orang yang tidak berguna”. Tetapi pada kenyataanya, ayahku menjadi ORANG YANG SANGAT BERGUNA.

Posted in Uncategorized | Leave a comment